Maulid Al-Barzanji Atiril Ke Sembilan Lengkap Dengan Artinya
San3kalongbm.com - Maulid Al-Barzanji Atiril Ke Sembilan Lengkap Dengan Artinya - Kitab Al-Barzanji adalah sebuah kitab sejarah Nabi Muhammad SAW. Kisah perjalanan Nabi, puji-pujian serta do'a-do'a kepada Nabi Muhammad SAW. Sebuah kitab maulid yang sangat terkenal di kalangan umat muslim Indonesia khususnya warga nahdliyin.
![]() |
Maulid Al-Barzanji Atiril Ke Sembilan |
Kitab yang ditulis oleh Sayyid Zainal ‘Abidin Ja’far bin Hasan bin ‘Abdul Karim al-Husaini asy-Syahzuri al-Barzanji. Beliau dilahirkan di Madinah al-Munawwarah pada Kamis awal Dzulhijah 1128 H/1716 M. Sayyid Ja’far al-Barzanji wafat pada Selasa setelah shalat Ahsar 4 Sya’ban 1177 H/1763 M, dan dimakamkan bersama dengan kakeknya di Baqi’ menjadi satu dengan keturunan Rasulullah saw yang lain.
Berikut Maulid Al-Barzanji Atiril Ke Sembilan Lengkap Dengan Artinya:
وَلَمَّا بَلَغَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ اَرْبَعَ سِنِينَ خَرَجَتْ بِهِ أُمُّهُ اِلَى الْمَدِينَةِ النَّبَوِيَّة ۞ ثُمَّ عَادَتْ فَوَافَتْهَا بِالْاَبْوَاءِ أَوْ بِشِعْبٍ الْحَجُونِ الْوَفَاة ۞ فَحَمَلَتْهُ حَاضِنَتُهُ أُمُّ أَيْمَنَ الْحَبَشِيَّة ۞ اَلَّتِي زَوَّجَهَا بَعْدُ مِنْ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ مَوْلَاه ۞ وَأَدْخَلَتْهُ عَلَى جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَرَقَّ لَهُ وَأَعْلَى رُقِيَّة ۞ وَقَالَ إِنَّ لابْنِي هَذَا لَشَأْنًا عَظِيْمًا فَبَخٍ بَخٍ لِمَنْ وَقَّرَهُ وَوَالَاه ۞ وَلَمْ تَشْكُ فِي صِبَاهُ جُوْعًا وَلَا عَطَشُا قَطُّ نَفْسُهُ الْأَبِيَّه ۞ وَكَثِيرًا مَا غَدَا فَاغْتَذَى بِمَاءِ زَمْزَمَ فَأَشْبَعَهُ وَأَرْوَاه ۞ وَلَمَّا أُنِيْخَتْ بِفِنَاءِ جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ مَطَايَا الْمَنِيَّة ۞ كَفَلَهُ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ شَقِيقُ أَبِيْهِ عَبْدِ الله
۞ فَقَامَ بِكَفَالَتِهِ بِعَزْمٍ قَوِيٍّ وَهِمَّةٍ وَحَمِيَّة ۞ وَقَدَّمَهُ عَلَى النَّفْسِ وَالْبَنِينَ وَرَبَّاه ۞ وَلَمَّا بَلَغَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً رَحَلَ بِهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ اِلَى الْبِلَادِ الشَّامِيَّة ۞ وَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ بَحِيْرَاءَ بِمَا حَازَهُ مِنْ وَصْفٍ النُّبُوَّةِ وَحَوَاه ۞ وَقَالَ إِنِّي أَرَاهُ سَيِّدَ الْعَالَمِينَ وَرَسُولَ اللهِ وَنَبِيَّه ۞ وَقَدْ سَجَدَ لَهُ الشَّجَرُ وَالْحَجَرُ وَلَا يَسْجُدَانِ إِلَّا لِنَبِيٍّ أَوَّاه ۞ وَإِنَّا لَنَجِدُ نَعْتَهُ فِي الْكُتُبِ الْقَدِيمَةِ السَّمَاوِيَّة ۞ وَبَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ قَدْ عَمَّهُ النُّورُ وَعَلَاه ۞ وَأَمَرَ عَمَّهُ بِرَدِّهِ إِلَى مَكَّةَ تَخَوُّفًا عَلَيْهِ مِنْ أَهْلِ دِيْنِ الْيَهُوْدِيَّة ۞ فَرَجَعَ بِهِ وَلَمْ يُجَاوِزْ مِنَ الشَّامِالْمُقَدَّسِ بُصْرَاه
۞ [عَطِّرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلَاةٍ وَتَسْلِيْم]
Artinya:
Ketika beliau mencapai usia empat tahun, ibunya berangkat dengannya ke Madinah. Kemudian ia kembali lalu wafat di Abwa’ atau Syi‘bul Hajun. Lalu beliau dibawa oleh pengasuhnya, Ummu Aiman Al-Habasyiah, yang nantinya beliau nikahkan dengan Zaid bin Haritsah, maula (bekas budak) beliau.
Ummu Aiman memasukkan beliau ke tempat kakeknya, Abdul Muthalib. Maka Abdul Muthalib memeluknya dan ia sangat sayang kepadanya. Lalu ia berkata, “Sesungguhnya anakku (cucuku) ini mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, maka beruntunglah orang yang menghormati dan memuliakannya.”
Beliau, yang enggan mengadu, tidak pernah mengadu lapar dan haus di waktu kanak-kanak. Sering kali beliau pergi di waktu pagi lalu beliau minum (sebagai pengganti makan) air zamzam, sehingga membuatnya kenyang dan segar.
Ketika kematian menjemput kakeknya, Abdul Muthalib, pamannya, saudara kandung ayahnya, Abu Thalib, menanggungnya, dengan memeliharanya. Ia melaksanakan penanggungan itu dengan kemauan keras dan penuh semangat.
Abu Thalib mendahulukan beliau dibandingkan dirinya dan anak-anaknya, dan ia juga mendidiknya. Saat beliau mencapai umur dua belas tahun, pamannya membawanya pergi ke negeri Syam. Pendeta Buhaira mengenalnya karena sifat kenabian yang ada pada diri beliau.
Dan ia berkata, “Aku yakin, beliau adalah pemimpin seluruh alam, utusan Allah, dan nabi-Nya. Pohon dan batu sujud kepadanya, padahal keduanya tidak sujud kecuali kepada nabi yang selalu kembali kepada Allah.
Sesungguhnya kami mendapati sifatnya di dalam kitab samawi yang terdahulu.” Di antara kedua bahunya terdapat cap kenabian yang telah diratai oleh cahaya. Pendeta itu menyuruh pamannya untuk mengembalikannya ke Makkah, karena mengkhawatirkan beliau dari perlakuan para pemeluk agama Yahudi.
Maka Abu Thalib membawa pulang beliau dari Syam yang suci tidak melalui Bashrah.
Ya Allah Berikanlah Wewangian pada Qubur Nabi Shollallohu’alayhi wa sallam yang mulia, dengan Sholawat dan Salam Sejahtera yang Mewangi.
Demikian Maulid Al-Barzanji Atiril Ke Sembilan Lengkap Dengan Artinya, semoga dengan adanya artikel ini akan menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW, dan lebih memahami kisah-ksah Rasulullah yang menjadi panutan seluruh umat manusia di dunia.
Simak dan baca juga Maulid Al-Barzanji Atiril Ke Sepuluh Lengkap Dengan Artinya.
Tetap ikuti Blog San3kalongbm.com untuk mendapatkan update informasi seputar Religi dan terjemah kitab-kitab pesantren salaf. Wallahu A'lam bisowab.....
Terimakasih, Wassalam .....San3kalongbm
Post a Comment for "Maulid Al-Barzanji Atiril Ke Sembilan Lengkap Dengan Artinya"